Julio
The Live of Love
Chapter
One
Family…..
Oh….. My beloved Family……
|
“Kasih dan pengharapan, inilah yang ditanamkan
oleh seorang ayah yang sangat luar
biasa mengajarkan setiap anak-anaknya untuk mengerti apa itu kasih dan
meletakkannya sebagai dasar hidup dalam mengarungi perjalanan hidup serta
menghadapi setiap kerasnya tantangan-tantangan hidup.”
|
Di
suatu malam yang cukup dingin dan lembab, hari itu seorang laki-laki tampak
begitu resah di sebuah ruang tunggu rumah sakit bersalin. Sudah sejak kira-kira
sejam yang lalu, Gunadi, itulah nama laki-laki itu, ia berjalan mondar-mandir,
gugup, dan kecemasan tampak di raut wajahnya. Sesekali ia melihat jam tangan Seiko di lengan kirinya. ” Huh, sudah
hampir jam delapan ..,” keluhnya sambil memandang ke pintu kamar bersalin
tempat istrinya bertaruh nyawa.
Seketika
teringat kembali bagaimana Gunadi mengawali kehidupan mandirinya. Mulai dengan
coba – coba membuka toko sebagai karir
yang dipilihnya. Meskipun perjuangan Gunadi tidak mudah namun sepertinya toko
yang dimiliki Gunadi tampak mulai menggeliat, lambat laun makin memantapkan
posisinya di wilayah sekitar. Terkenang pula bagaimana saat – saat dimana
tokonya pada saat itu dua hari menjelang
Hari Raya Idul Fitri, toko Gunadi biasa buka pada pukul 07.00, namun betapa
terkejutnya saat Gunadi membuka tokonya pada pukul 06.30 saat itu, namun para
pelanggan setia sudah mengantri dan
menunggu seakan – akan sebentar lagi aka nada pembagian sembako gratis,
sampai – sampai Gunadi beserta 3 orang karyawannya pun cukup kewalahan.
Teringat
pula pertemuan pertamanya dengan Julia di suatu sore, sungguh suatu pertemuan
yang romantis meskipun hanya di sebuah toko kecil. Mungkin inilah yang
dikatakan sebagai cinta pada pandangan pertama. Di suatu sore sesaat sebelum
Gunadi hendak menutup tokonya, tiba-tiba seorang ‘bidadari’ melewati tokonya
dan sesaat jantung Gunadi pun terhenti, dan siapa sangka pandangan itu bagaikan
gayung bersambut. Diawali dari saling pandang, bicara, bertemu, hingga berujung
pada sebuah komitmen 'pernikahan’.
Hari
ini memang merupakan hari yang istimewa bagi Gunadi. Sudah tiba waktunya bagi Julia,
istrinya untuk melahirkan. “Tenanglah sedikit, Gun! Wajar koq kalau kamu merasa
tegang dan gugup saat menanti kelahiran anak yang pertama. Semua akan baik-baik
saja. Percaya sama koko. Lebih baik
kita berdoa, dan biarlah Tuhan sendiri yang akan tolong semua prosesnya. Tak
perlu kuatir. Serahkan saja semuanya kepada Tuhan!” ujar Rudy, kakak dari Gunadi yang ikut serta menemaninya.
Ditengah
keresahan Gunadi, dia pun tidak sendirian, rupa-rupanya malam itu banyak juga keluarga – keluarga muda
yang sedang menanti kelahiran anak mereka. Beberapa ayah yang sedang menunggu tampak asyik
bercakap-cakap satu sama lain. Sesekali terdengar bunyi tangisan bayi, suster
dan dokter yang lalu lalang berjalan dengan tergesa-gesa, jeritan serta
tangisan ibu-ibu hamil yang sangat menyayat hati berjuang untuk mengeluarkan
buah cinta mereka ke dalam dunia menjadi sebuah pemandangan yang Gunadi lihat
sejak tadi saat dia tiba di Rumah Sakit Bersalin sejak pukul 6 tadi sore. Semua
itu benar-benar membuat hati Gunadi
bertambah gusar.
Ditemani oleh secangkir kopi panas yang baru
saja dibelikan oleh sang kakak tersayang, ia pun kembali mengingat-ingat
saat-saat kisah menegangkan itu dimulai.
Tadi
sore, suatu hal yang sama sekali tidak terduga terjadi, saat Julia, yang memang
sudah hamil tua itu tiba-tiba mengaduh kesakitan. “Aduh, sakit sekali!
Sepertinya saya mau melahirkan!” kata Julia merintih. Hal itu pun jelaslah membuat
Gunadi cukup tegang dan pusing tujuh keliling. Lagipula saat itu Toko Anugerah
milik Gunadi sedang penuh sesak oleh para pembeli. Sontak seluruh pembeli di tokonya
itu terkejut, mulai dari orang yang kebingungan seakan-akan sedang menyaksikan
sebuah acara reality show di televisi,
menceramahi Gunadi tentang apa saja yang
ia harus dan tidak boleh ia lakukan, beberapa orang yang lain menawarkan bantuan
lain yang bisa membantu meringankan derita sang calon ibu. Bahkan, ada pula
seorang ibu yang mendadak ikut-ikutan sakit perut seperti mau melahirkan
katanya, padahal dia sama sekali tidak sedang hamil. Entah apakah ini yang
disebut dengan sugesti, hubungan
batin, atau koneksi macam apalah, tidak dapat dimengerti.
Pada
akhirnya, syukurlah bahwa semua pembeli dapat ikut serta membantu hingga Julia
bisa dilarikan ke rumah sakit bersalin dengan segera oleh seseorang langganan
setia berkebangsaan Amerika yang wajahnya mirip sekali dengan aktor barat kenamaan kala
itu, Charles Bronson, dengan menggunakan hardtop miliknya. “
Don’t worry, Man ! I’ll take you to
the hospital right away. Just prepare everything you need !” ujar Charles
Bronson.
Tentu
saja Gunadi sangatlah bersyukur dengan dukungan orang-orang dan tidak
ketinggalan tetangga-tetangga yang ikut serta membantunya, meskipun banyak juga
para langganan yang belum sempat
terlayani pada saat itu karena toko miliknya itu mau tidak mau terpaksa harus
ditutup sementara untuk mengantar istri tersayang mengeluarkan sebuah makhluk mungil ke dalam dunia ini, namun tidak ada satu pun keluh
kesah keluar dari mulut mereka.
“I
hope everything is ready. We have to go right
away!” ujar Charles Bronson. Dengan segera ia beserta beberapa tetangga
membantu Julia untuk masuk ke dalam mobil dan menaruh barang-barang yang akan
diperlukan ke dalam mobil. Sungguh suatu moment
yang sangat mengharukan bagi Gunadi berada di antara orang-orang yang
membantunya dengan sukarela. Ya, mungkin inilah yang disebut sebagai upah dari
orang baik. Akan banyak sekali orang yang bersedia membantu pada saat mengalami
kesusahan atau memerlukan bantuan.
“Thank
you, Mister! Thank you ……. !” berulang – ulang kali Gunadi mengucapkannya
kepada sang aktor dan sesekali air mata haru pun menetes menemani rasa campur
aduk yang dia alami. Entahlah… bahagia, cemas, takut, gugup, dan gentar semua
bercampur jadi satu.
Sepanjang
perjalanan menuju rumah sakit bersalin, segala upaya Gunadi mencoba untuk
menenangkan serta menguatkan Julia yang masih merintih menahan rasa sakit yang
dialaminya, sambil berdoa sepanjang perjalanan seraya berharap segala
sesuatunya akan berjalan dengan baik tidak kurang sesuatu apa pun.
Setibanya
di rumah sakit, bagaikan seperti sebuah team sepak bola yang sudah terencana,
semua orang yang ada di dalam mobil, Gunadi beserta keluarga dan
sahabat-sahabatnya yang tiba disana segera berbagi tugas sehingga istrinya
dapat ditangani oleh pihak rumah sakit dan mendapatkan perawatan, pemeriksaan
serta mempersiapkan persalinannya.
Tepat
jam sembilan malam, sebuah teriakan seorang wanita yang Gunadi kenal betul
suaranya terdengar sangat nyaring. Klimaks dari kegugupan Gunadi beserta
beberapa saudara yang ikut serta mendamping mereka pada akhirnya mereka alami
juga. Selang beberapa saat kemudian, terdengarlah sebuah tangisan seorang bayi
yang begitu nyaring. Dengan harap-harap cemas, mereka saling pandang satu sama
lain tanpa keluar sepatah kata pun, seakan-akan bertanya-tanya di dalam hati,” Apa yang sebenarnya
terjadi?”
Namun
ditengah kegalauan suasana itu, tiba-tiba seorang dokter pun datang, terdiam
sesaat …… , lalu tersenyum, dan berkata,” Selamat, Pak Gunadi! Anda sudah
menjadi seorang ayah! Anak dan istri Anda dalam keadaan yang sehat.”
“Puji
Tuhan! Oh, terima kasih, Tuhan!” terlontar dari mulut Gunadi dan keluarga. Suasana
haru dan bahagia pun melingkupi seluruh
keluarga di tempat itu. Beberapa calon ayah yang sama-sama sedang menunggu
kelahiran anak-anak mereka pun ikut menyalami Gunadi dan keluarga, mengucapkan
selamat dan ikut bersuka ria sejenak sebelum mereka kembali gugup serta berkonsentrasi
kepada perjuangan hidup dan mati istri-istri mereka.
Pada akhirnya berakhir pula ketegangan yang
keluarga Gunadi alami hari itu
tergantikan oleh sukacita dan ucapan syukur yang tak dapat diungkapkan oleh
kata-kata.
“Bapak
Gunadi! Anda diperbolehkan untuk masuk melihat istri dan anak anda.” kata
seorang suster ramah sambil tersenyum. “Selamat ya, Pak!” lanjutnya.
Dengan
perasaan yang harap-harap cemas, Gunadi membuka daun pintu perlahan dan
mendapati istrinya tersenyum dan seorang bayi mungil pun tertidur di bahunya.
Kebahagian sangatlah tampak pada wajah mereka.
“Maafkan
saya, saya harus mengambil anak Bapak dan Ibu saat ini, lagi pula ada hal yang
perlu saya sampaikan!” ujar Dokter Lukas. “Untuk beberapa saat, anak Bapak Ibu
akan saya simpan ke dalam incubator
untuk menjaga kehangatan sang bayi sekaligus karena menurut pertimbangan saya
berat anak anda terbilang kecil, hanya 2,25 kilogram saja. Jadi saya pastikan
semuanya akan berjalan dengan baik. Anak anda berada dalam perawatan
orang-orang yang tepat. Tidak perlu kuatir, ya Pak,Bu!” ujarnya lembut sambil
tersenyum. Dan seketika itu juga seorang suster ramah yang tampaknya sudah
cukup makan asam garam dalam hidupnya, mungkin dapat terlihat dari
kerutan-kerutan di wajahnya yang kalah termakan usia, dia memohon ijin untuk
mengambil anak itu dan membawanya keluar dari ruangan guna mendapatkan
perawatan.
Tidak
membutuhkan waktu yang terlalu lama, hanya sekitar tiga hari perawatan, akhirnya
Julia pun diijinkan pulang beserta seorang bayi di pangkuannya. Itulah diriku, Julio
Giovanni Gunadi, anak laki-laki mungil dari keluarga Gunadi dan Julia itu berkumpul
bersama melengkapi kisah baru dalam keluarga Gunadi.
Lengkaplah
sudah kebahagiaan keluarga ini. Dua orang yang memadu kasih, bertumbuh menjadi
sebuah keluarga inti yang kokoh dan bahagia. Kasih dan pengharapan, inilah yang
ditanamkan oleh seorang ayah yang sangat luar biasa yang mengajarkan setiap
anak-anaknya untuk mengerti apa itu kasih dan meletakkannya sebagai dasar hidup
dalam mengarungi perjalanan hidup serta menghadapi setiap kerasnya
tantangan-tantangan hidup.
Sebagai
seorang ayah, Gunadi adalah ayah yang baik hati, penyayang, ramah, sangat
penyabar, bertanggung jawab, dan bijaksana dalam mengambil segala keputusan.
Meskipun dia adalah anak bungsu dalam keluarganya, namun dalam urusan
pengambilan keputusan yang menyangkut urusan keluarga besar, seringkali
pendapatnya selalu diperlukan dan diperhitungkan juga. Sedangkan Julia adalah seorang ibu yang cukup
keras, bertanggung jawab dan cukup dominan dalam hal mendidik anak-anaknya
untuk menjadi seseorang yang biasa disebut: “jadi orang”. Benar-benar seorang ibu yang perkasa. Di dalam hatinya
tersimpan harapan agar anaknya benar-benar menjadi seseorang yang mapan dan
berguna di masa depan dengan kesuksesan yang tidak hanya materi saja tetapi
juga memiliki akhlak yang baik. Segala upaya mereka lakukan untuk kebaikan
anaknya.
Mereka sangat kompak
dalam hal membina keluarga. Hidup sederhana, mau berbagi, serta rela berkorban
secara tulus tanpa mengharapkan imbalan sama sekali atas apa yang mereka
berikan tidak hanya untuk keluarga mereka sendiri, tetapi juga untuk semua orang
yang ada di antara mereka. Sehingga hal inilah yang membuat keluarga ini cukup
dikenal serta terpandang di daerah tempat kediamannya, menjadi sebuah nilai
tambah dalam kehidupan keluarga Gunadi.