Rabu, 21 Desember 2016

Sebuah Cerita

Sebuah cerita ..................
 
Rasa rindu terhadap seorang sahabat maupun kawan adalah hal yang sangat biasa bagiku. Aku adalah seorang yang sangat menyukai dan menganggap penting suatu hubungan persahabatan. Bahkan terkadang saya tidak menyadari  jika seseorang hanyalah memperalatku untuk suatu hal yang dia perlukan. Naif? Terlalu naif, mungkin ada benarnya. Itulah aku.

Teman-temanku berkata, aku adalah seorang kawan yang ceria. Beberapa orang bertanya, pernahkah aku mengalami masalah di dalam hidupku. Tampaknya tidak. Karena aku selalu tampil ceria, murah senyum dan senantiasa bersemangat. Aku adalah seorang guru. Dan banyak di antara murid-muridku berkata, bahwa aku adalah salah satu guru favoritnya. Well, I'll just try to do my best. That's all. If somebody appreciate my works, that's really a bonus for me.

Aku mudah sekali bergaul. Namun sesungguhnya tidak terlalu lihay dalam hal percintaan. Jujur saja. seumur hidupku, aku hanya memiliki seorang "pacar" yang di kemudian hari menjadi seorang "istri". Saya berkata bahwa hal itu menjadi suatu prinsip hidup. Bahwa aku tidak mau menyakiti orang lain, terlebih tersakiti oleh karena kebodohan atau kesalahanku. Well, that's good I think. Jika saya diperhadapkan ke dalam suatu konflik, biasanya saya jarang sekali untuk segera membela diri, khususnya di depan orang-orang yang menurutku adalah "special". Saya lebih sering menyalahkan diri saya atau bahkan kadang-kadang mampu melukai diri saat emosiku memuncak. Meskipun terkadang, memang sesal kemudian tidak ada gunanya. Tidaklah berarti lagi.

Dalam berkawan, aku biasa untuk memuji seseorang kawan apa adanya. Bila bagiku, dia cantik, maka saya akan appreciate, dan mengatakan," Kamu cantik." Jika saya pikir saya perlu memuji pakaian yang dikenakan atau bahkan tindakan hebatnya, maka saya tidak akan segan untuk memujinya. Tentu saja, semua saya lakukan dengan setulus hati. Terkadang saya mendengarkan curhatan teman-teman.  Yah, jadi sejenis tong sampah. Tapi bagiku, saya tidak pernah berfikir bahwa saya seperti suatu tong sampah adalah hal yang hina atau sesuatu yang tidak ada gunanya. Saya terlalu percaya, bahwa saya bisa berguna bagi teman-teman saya. Sampai-sampai  saya mampu merasakan apa yang kawan saya rasakan. Banyak orang berkata, hal itu "bullshit" belaka. Tapi itulah yang aku rasakan. Bahkan, beberapa orang terdekatku sering menegurku. "Coba sekali-kali gunakan logika, bukan perasaan!" Itulah aku, meskipun seorang cowok tulen, tapi saya lebih sering menggunakan perasaan saya kebanding logika.

Cita-citaku aku ingin sekali menjadi seseorang yang berhasil dan berguna dengan segudang mimpi ada dibenakku. Mulai mimpi mejadi seorang musisi, menjadi seorang kaya yang memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, meskipun terkadang jujur saja tidak selalu berjalan seimbang dengan usaha yang saya lakukan. Seorang pemimpikah aku? Mungkin ungkapan itu tidak salah juga bila disematkan kepada saya. The most important thing, I just wanna be a good guy. "I'm a good guy indeed!"

Saat ini, pernikahan saya sudah berjalan hampir 9 tahun. Saya tetap berusaha untuk menjadi seorang suami terbaik. Apakah aku seorang suami sempurna? Tidak juga. Saya acapkali minder dengan berbagai kelemahan saya dan mungkin dibarengi dengan bejubel mimpi saya yang ketinggian.

Well, sekarang ini saya berada di penghujung tahun. Jujur, saya bukanlah orang yang senantiasa memegang teguh resolusi awal tahun. Di saat orang-orang mulai melakukan "Kaleidoskop", dengan berbagai  bukti dan hasil pencapaian resolusi di tahun belakangan ini. Tapi aku, 'Let bygones be bygones!' Jadi yang tahun ini saya lakukan sebaik mungkin, yah, jalan aja.

Namun baru kali ini, saya merasa berada dalam suatu kegalauan tiada tara. Seumur hidupku, baru kali ini kurasakan. Mungkin beberapa orang, termasuk istriku menyadarinya. Bahwa aku sedikit lebih tampak murung, khususnya jika aku sedang menyendiri baik di dalam ruangan maupun di dalam Sang Phoenix, kendaraanku.

Hal ini bermula kira-kira di akhir bulan November. Seorang sepupu, yang kebetulan kami satu sekolah dan juga satu angkatan di sekolah dahulu pada saat itu menghubungiku lewat Facebook. Dia bertanya, apakah aku memiliki akun WA, dan sayapun membaginya. Dari dialah aku mendengar, bahwa akan diadakan reuni sekolah kami. Tanpa saya, sadari hal ini rupa-rupanya sangat mempengaruhi saya. Seakan-akan diputar kembali film-film masa lampau, semua memori dan kenangan masa lampau  seakan-akan flash back dan menggali semua kenangan-kenangan manis maupun getir di masa kecil dahulu.
 
Ada satu yang paling saya ingat. Itulah saat saya mulai berkenalan dengan seoran lawan jenis yang aku tahu bahwa ada rasa ketertarikan yang berbeda yang aku rasakan. Semua rasa itu aku tuangkan ke dalam Diary, buku harian yang senantiasa menemaniku di kala menjelang malam. saat aku mengenal seseorang yang special bagiku. Dan rupa-rupanya dialah cinta pertamaku. Yeah, My first Love. Saya teringat, bagaimana gejolak rasa ini saat berada di dekatnya, saat mampu melirik atau memandangnya. Terlebih saat memiliki kesempatan untuk berbincang-bincang ataupun berjalan bersama. Hanya rasa ini dan hati ini yang tahu. Namun, karena aku. Ya, aku. Dulu, aku bukanlah seseorang yang mampu berani atau mudah untuk menyatakan cinta. Bahkan saat aku menyatakan cinta dan melamar istriku, pun saya lakukan dengan sejumlah perencanaan, termasuk dalam merangkai kata-kata yang harus saya ucapkan.

Aku merasa dengan sadar bahwa aku sedang berada di dalam titik terbodoh yang aku lakukan atau tidak kulakukan.
Semua memory tentang dia, seakan-akan kembali berkumpul dan memaksaku untuk kembali saya buka. Saat teman saya menggoda dan bertanya, apakah dia semakin cantik atau tidak? Saya menjawabnya," Apakah dia cantik atau tidak, bukanlah menjadi masalah. Namun kenangan ini yang tidak dapat saya selubungi."  .............. Betapa bodohnya saya ini. Bukankah dia ini orang yang aku cintai pertama kali, namun karena saya yang tidak berani untuk mengungkapkannya.......... #galau mode:on. Huh, betapa bodohnya aku. Andai saja waktu dapat berputar kembali untuk saya mampu mengulang dan memberanikan diriku untuk menyatakan rasa ini kepadanya.

Saat ini saya merasa menjadi orang lain..... Orang jahat.....  Orang yang sangat jahat. Memang yang saya dengar bahwa dia masih sendiri..... timbul pertanyaan di dalam benak saya, meskipun agak sedikit berlebihan.... "Jangan-jangan sebetulnya dia itu menunggu saya...."
 

This Feeling....  

Perasaan ini....

Kegalauan ini ....

Mengapa rasa ini kembali lagi..... Rasa cinta, rasa ingin memiliki, dengan pemikiran kalau saat ini saya sih sudah berani untuk menyatakannya, namun situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan lagi. Malahan, kadang-kadang timbul pemikiran jahat. Dimana istriku tiada dan aku meminta dia menjadi bagian hidupku. Sambil ditemani lagu-lagu galaunya, Yovie Widianto atau lagu-lagu Vivian Chow, menemaniku seakan-akan kembali mengenang hal-hal di masa lalu di tengah kegundahan rasaku ini. Saat bisa bercakap-cakap lagi dengan dia, hati ini menjadi tak tenang.  Ah, perasaan ini!!!

Tuhan aku bingung. Apakah nini adalah suatu cobaan yang harus saya lewati? Cobaan dalam hubungan keluarga yang tengah aku bina? Jika saya mencoba untuk bertanya dengan orang lain, saya tahu apa yang menjadi jawabannya. Tepat sekali! Kamu harus tetap setia dengan istrimu dan lupakanlah dia. Namun, aku tidak sanggup bahkan tidak rela kehilangan rasa ini. Bahkan aku sama sekali enggan untuk mengubur rasa  ini.

Please God, I can't forget her. Don't force me to forget her! I don't want to delete her in my life. From my story of life.

Salahkah aku?

Apakah aku telah berubah menjadi seorang yang brengsek?

Apakah aku telah menduakan orang yang mencintaiku saat ini?

Yang aku tahu, I'm not a good husband anyway. Bahkan saat istriku bertanya maukah aku memiliki anak, aku merasa dan aku menjawabnya bahwa aku belum siap dan tak mampu untuk memiliki seorang anak. Aku takut tidak dapat mendidiknya dengan baik.

Di tengah kegalauanku ini, saat ini, aku belum mendapatkan jawaban pasti.

Ini lebih baik.

Kan kujalani saja......

The story of life ........
 


 
THE END
 
M.G 2016