Selasa, 12 November 2013

JULIO (Novel or cerpen gonna be........)

 Julio
The Live of Love


Chapter One
Family….. Oh….. My beloved Family……


“Kasih dan pengharapan, inilah yang ditanamkan oleh  seorang ayah yang sangat luar biasa mengajarkan setiap anak-anaknya untuk mengerti apa itu kasih dan meletakkannya sebagai dasar hidup dalam mengarungi perjalanan hidup serta menghadapi setiap kerasnya tantangan-tantangan hidup.”



Di suatu malam yang cukup dingin dan lembab, hari itu seorang laki-laki tampak begitu resah di sebuah ruang tunggu rumah sakit bersalin. Sudah sejak kira-kira sejam yang lalu, Gunadi, itulah nama laki-laki itu, ia berjalan mondar-mandir, gugup, dan kecemasan tampak di raut wajahnya. Sesekali ia melihat jam tangan Seiko di lengan kirinya. ” Huh, sudah hampir jam delapan ..,” keluhnya sambil memandang ke pintu kamar bersalin tempat istrinya bertaruh nyawa.

Seketika teringat kembali bagaimana Gunadi mengawali kehidupan mandirinya. Mulai dengan coba – coba  membuka toko sebagai karir yang dipilihnya. Meskipun perjuangan Gunadi tidak mudah namun sepertinya toko yang dimiliki Gunadi tampak mulai menggeliat, lambat laun makin memantapkan posisinya di wilayah sekitar. Terkenang pula bagaimana saat – saat dimana tokonya pada  saat itu dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, toko Gunadi biasa buka pada pukul 07.00, namun betapa terkejutnya saat Gunadi membuka tokonya pada pukul 06.30 saat itu, namun para pelanggan setia sudah mengantri dan  menunggu seakan – akan sebentar lagi aka nada pembagian sembako gratis, sampai – sampai Gunadi beserta 3 orang karyawannya pun cukup kewalahan.

Teringat pula pertemuan pertamanya dengan Julia di suatu sore, sungguh suatu pertemuan yang romantis meskipun hanya di sebuah toko kecil. Mungkin inilah yang dikatakan sebagai cinta pada pandangan pertama. Di suatu sore sesaat sebelum Gunadi hendak menutup tokonya, tiba-tiba seorang ‘bidadari’ melewati tokonya dan sesaat jantung Gunadi pun terhenti, dan siapa sangka pandangan itu bagaikan gayung bersambut. Diawali dari saling pandang, bicara, bertemu, hingga berujung pada sebuah komitmen 'pernikahan’.

   
Hari ini memang merupakan hari yang istimewa bagi Gunadi. Sudah tiba waktunya bagi Julia, istrinya untuk melahirkan. “Tenanglah sedikit, Gun! Wajar koq kalau kamu merasa tegang dan gugup saat menanti kelahiran anak yang pertama. Semua akan baik-baik saja. Percaya sama koko. Lebih baik kita berdoa, dan biarlah Tuhan sendiri yang akan tolong semua prosesnya. Tak perlu kuatir. Serahkan saja semuanya kepada Tuhan!” ujar Rudy, kakak  dari Gunadi yang ikut serta menemaninya.
Ditengah keresahan Gunadi, dia pun tidak sendirian, rupa-rupanya  malam itu banyak juga keluarga – keluarga muda yang sedang menanti kelahiran anak mereka. Beberapa  ayah yang sedang menunggu tampak asyik bercakap-cakap satu sama lain. Sesekali terdengar bunyi tangisan bayi, suster dan dokter yang lalu lalang berjalan dengan tergesa-gesa, jeritan serta tangisan ibu-ibu hamil yang sangat menyayat hati berjuang untuk mengeluarkan buah cinta mereka ke dalam dunia menjadi sebuah pemandangan yang Gunadi lihat sejak tadi saat dia tiba di Rumah Sakit Bersalin sejak pukul 6 tadi sore. Semua itu benar-benar  membuat hati Gunadi bertambah gusar.
 Ditemani oleh secangkir kopi panas yang baru saja dibelikan oleh sang kakak tersayang, ia pun kembali mengingat-ingat saat-saat kisah menegangkan itu dimulai.
Tadi sore, suatu hal yang sama sekali tidak terduga terjadi, saat Julia, yang memang sudah hamil tua itu tiba-tiba mengaduh kesakitan. “Aduh, sakit sekali! Sepertinya saya mau melahirkan!” kata Julia merintih. Hal itu pun jelaslah membuat Gunadi cukup tegang dan pusing tujuh keliling. Lagipula saat itu Toko Anugerah milik Gunadi sedang penuh sesak oleh para pembeli. Sontak seluruh pembeli di tokonya itu terkejut, mulai dari orang yang kebingungan seakan-akan sedang menyaksikan sebuah acara reality show di televisi,  menceramahi Gunadi tentang apa saja yang ia harus dan tidak boleh ia lakukan, beberapa orang yang lain menawarkan bantuan lain yang bisa membantu meringankan derita sang calon ibu. Bahkan, ada pula seorang ibu yang mendadak ikut-ikutan sakit perut seperti mau melahirkan katanya, padahal dia sama sekali tidak sedang hamil. Entah apakah ini yang disebut dengan sugesti, hubungan batin, atau koneksi macam apalah, tidak dapat dimengerti.
Pada akhirnya, syukurlah bahwa semua pembeli dapat ikut serta membantu hingga Julia bisa dilarikan ke rumah sakit bersalin dengan segera oleh seseorang langganan setia  berkebangsaan Amerika yang wajahnya  mirip sekali dengan aktor barat kenamaan kala itu, Charles Bronson, dengan menggunakan hardtop miliknya. “ Don’t worry, Man ! I’ll take you to the hospital right away. Just prepare everything you need !” ujar Charles Bronson.
Tentu saja Gunadi sangatlah bersyukur dengan dukungan orang-orang dan tidak ketinggalan tetangga-tetangga yang ikut serta membantunya, meskipun banyak juga para langganan yang  belum sempat terlayani pada saat itu karena toko miliknya itu mau tidak mau terpaksa harus ditutup sementara untuk mengantar istri tersayang  mengeluarkan sebuah makhluk mungil ke dalam  dunia ini, namun tidak ada satu pun keluh kesah keluar dari mulut mereka.
“I hope everything is ready. We have to go right    away!” ujar Charles Bronson. Dengan segera ia beserta beberapa tetangga membantu Julia untuk masuk ke dalam mobil dan menaruh barang-barang yang akan diperlukan ke dalam mobil. Sungguh suatu moment yang sangat mengharukan bagi Gunadi berada di antara orang-orang yang membantunya dengan sukarela. Ya, mungkin inilah yang disebut sebagai upah dari orang baik. Akan banyak sekali orang yang bersedia membantu pada saat mengalami kesusahan atau memerlukan bantuan.
“Thank you, Mister! Thank you ……. !” berulang – ulang kali Gunadi mengucapkannya kepada sang aktor dan sesekali air mata haru pun menetes menemani rasa campur aduk yang dia alami. Entahlah… bahagia, cemas, takut, gugup, dan gentar semua bercampur jadi satu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit bersalin, segala upaya Gunadi mencoba untuk menenangkan serta menguatkan Julia yang masih merintih menahan rasa sakit yang dialaminya, sambil berdoa sepanjang perjalanan seraya berharap segala sesuatunya akan berjalan dengan baik tidak kurang sesuatu apa pun.
Setibanya di rumah sakit, bagaikan seperti sebuah team sepak bola yang sudah terencana, semua orang yang ada di dalam mobil, Gunadi beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya yang tiba disana segera berbagi tugas sehingga istrinya dapat ditangani oleh pihak rumah sakit dan mendapatkan perawatan, pemeriksaan serta mempersiapkan persalinannya. 

Tepat jam sembilan malam, sebuah teriakan seorang wanita yang Gunadi kenal betul suaranya terdengar sangat nyaring. Klimaks dari kegugupan Gunadi beserta beberapa saudara yang ikut serta mendamping mereka pada akhirnya mereka alami juga. Selang beberapa saat kemudian, terdengarlah sebuah tangisan seorang bayi yang begitu nyaring. Dengan harap-harap cemas, mereka saling pandang satu sama lain tanpa keluar sepatah kata pun, seakan-akan  bertanya-tanya di dalam hati,” Apa yang sebenarnya terjadi?”
Namun ditengah kegalauan suasana itu, tiba-tiba seorang dokter pun datang, terdiam sesaat …… , lalu tersenyum, dan berkata,” Selamat, Pak Gunadi! Anda sudah menjadi seorang ayah! Anak dan istri Anda dalam keadaan yang sehat.”   
“Puji Tuhan! Oh, terima kasih, Tuhan!” terlontar dari mulut Gunadi dan keluarga. Suasana haru dan bahagia  pun melingkupi seluruh keluarga di tempat itu. Beberapa calon ayah yang sama-sama sedang menunggu kelahiran anak-anak mereka pun ikut menyalami Gunadi dan keluarga, mengucapkan selamat dan ikut bersuka ria sejenak sebelum mereka kembali gugup serta berkonsentrasi kepada perjuangan hidup dan mati istri-istri mereka.
 Pada akhirnya berakhir pula ketegangan yang keluarga Gunadi  alami hari itu tergantikan oleh sukacita dan ucapan syukur yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata.
“Bapak Gunadi! Anda diperbolehkan untuk masuk melihat istri dan anak anda.” kata seorang suster ramah sambil tersenyum. “Selamat ya, Pak!” lanjutnya.
Dengan perasaan yang harap-harap cemas, Gunadi membuka daun pintu perlahan dan mendapati istrinya tersenyum dan seorang bayi mungil pun tertidur di bahunya. Kebahagian sangatlah tampak pada wajah mereka.








“Maafkan saya, saya harus mengambil anak Bapak dan Ibu saat ini, lagi pula ada hal yang perlu saya sampaikan!” ujar Dokter Lukas. “Untuk beberapa saat, anak Bapak Ibu akan saya simpan ke dalam incubator untuk menjaga kehangatan sang bayi sekaligus karena menurut pertimbangan saya berat anak anda terbilang kecil, hanya 2,25 kilogram saja. Jadi saya pastikan semuanya akan berjalan dengan baik. Anak anda berada dalam perawatan orang-orang yang tepat. Tidak perlu kuatir, ya Pak,Bu!” ujarnya lembut sambil tersenyum. Dan seketika itu juga seorang suster ramah yang tampaknya sudah cukup makan asam garam dalam hidupnya, mungkin dapat terlihat dari kerutan-kerutan di wajahnya yang kalah termakan usia, dia memohon ijin untuk mengambil anak itu dan membawanya keluar dari ruangan guna mendapatkan perawatan.  
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, hanya sekitar tiga hari perawatan, akhirnya Julia pun diijinkan pulang beserta seorang bayi di pangkuannya. Itulah diriku, Julio Giovanni Gunadi, anak laki-laki mungil dari keluarga Gunadi dan Julia itu berkumpul bersama melengkapi kisah baru dalam keluarga Gunadi.  
Lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga ini. Dua orang yang memadu kasih, bertumbuh menjadi sebuah keluarga inti yang kokoh dan bahagia. Kasih dan pengharapan, inilah yang ditanamkan oleh seorang ayah yang sangat luar biasa yang mengajarkan setiap anak-anaknya untuk mengerti apa itu kasih dan meletakkannya sebagai dasar hidup dalam mengarungi perjalanan hidup serta menghadapi setiap kerasnya tantangan-tantangan hidup.   
Sebagai seorang ayah, Gunadi adalah ayah yang baik hati, penyayang, ramah, sangat penyabar, bertanggung jawab, dan bijaksana dalam mengambil segala keputusan. Meskipun dia adalah anak bungsu dalam keluarganya, namun dalam urusan pengambilan keputusan yang menyangkut urusan keluarga besar, seringkali pendapatnya selalu diperlukan dan diperhitungkan juga.   Sedangkan Julia adalah seorang ibu yang cukup keras, bertanggung jawab dan cukup dominan dalam hal mendidik anak-anaknya untuk menjadi seseorang yang biasa disebut: “jadi orang”. Benar-benar seorang ibu yang perkasa. Di dalam hatinya tersimpan harapan agar anaknya benar-benar menjadi seseorang yang mapan dan berguna di masa depan dengan kesuksesan yang tidak hanya materi saja tetapi juga memiliki akhlak yang baik. Segala upaya mereka lakukan untuk kebaikan anaknya.
Mereka sangat kompak dalam hal membina keluarga. Hidup sederhana, mau berbagi, serta rela berkorban secara tulus tanpa mengharapkan imbalan sama sekali atas apa yang mereka berikan tidak hanya untuk keluarga mereka sendiri, tetapi juga untuk semua orang yang ada di antara mereka. Sehingga hal inilah yang membuat keluarga ini cukup dikenal serta terpandang di daerah tempat kediamannya, menjadi sebuah nilai tambah dalam kehidupan keluarga Gunadi.

1 komentar:

  1. Ini ceritanya saya lagi belajar buat cerita, terlalu jauhlah kalo dibilang buat novel. Chapter One. So, to be continued. Tolong berikan saya kritik dan saran. Thank you.

    BalasHapus