Sebuah
cerita ..................
Rasa rindu terhadap seorang
sahabat maupun kawan adalah hal yang sangat biasa bagiku. Aku adalah seorang
yang sangat menyukai dan menganggap penting suatu hubungan persahabatan. Bahkan
terkadang saya tidak menyadari jika
seseorang hanyalah memperalatku untuk suatu hal yang dia perlukan. Naif?
Terlalu naif, mungkin ada benarnya. Itulah aku.
Teman-temanku berkata, aku adalah
seorang kawan yang ceria. Beberapa orang bertanya, pernahkah aku mengalami
masalah di dalam hidupku. Tampaknya tidak. Karena aku selalu tampil ceria,
murah senyum dan senantiasa bersemangat. Aku adalah seorang guru. Dan banyak di
antara murid-muridku berkata, bahwa aku adalah salah satu guru favoritnya.
Well, I'll just try to do my best. That's all. If somebody appreciate my works,
that's really a bonus for me.
Aku mudah sekali bergaul. Namun
sesungguhnya tidak terlalu lihay dalam hal percintaan. Jujur saja. seumur
hidupku, aku hanya memiliki seorang "pacar" yang di kemudian hari
menjadi seorang "istri". Saya berkata bahwa hal itu menjadi suatu
prinsip hidup. Bahwa aku tidak mau menyakiti orang lain, terlebih tersakiti
oleh karena kebodohan atau kesalahanku. Well, that's good I think. Jika saya
diperhadapkan ke dalam suatu konflik, biasanya saya jarang sekali untuk segera
membela diri, khususnya di depan orang-orang yang menurutku adalah
"special". Saya lebih sering menyalahkan diri saya atau bahkan
kadang-kadang mampu melukai diri saat emosiku memuncak. Meskipun terkadang, memang
sesal kemudian tidak ada gunanya. Tidaklah berarti lagi.
Dalam berkawan, aku biasa untuk
memuji seseorang kawan apa adanya. Bila bagiku, dia cantik, maka saya akan appreciate, dan mengatakan," Kamu
cantik." Jika saya pikir saya perlu memuji pakaian yang dikenakan atau
bahkan tindakan hebatnya, maka saya tidak akan segan untuk memujinya. Tentu
saja, semua saya lakukan dengan setulus hati. Terkadang saya mendengarkan
curhatan teman-teman. Yah, jadi sejenis
tong sampah. Tapi bagiku, saya tidak pernah berfikir bahwa saya seperti suatu
tong sampah adalah hal yang hina atau sesuatu yang tidak ada gunanya. Saya
terlalu percaya, bahwa saya bisa berguna bagi teman-teman saya. Sampai-sampai saya mampu merasakan apa yang kawan saya
rasakan. Banyak orang berkata, hal itu "bullshit" belaka. Tapi itulah yang aku rasakan. Bahkan, beberapa
orang terdekatku sering menegurku. "Coba sekali-kali gunakan logika, bukan
perasaan!" Itulah aku, meskipun seorang cowok tulen, tapi saya lebih
sering menggunakan perasaan saya kebanding logika.
Cita-citaku aku ingin sekali
menjadi seseorang yang berhasil dan berguna dengan segudang mimpi ada
dibenakku. Mulai mimpi mejadi seorang musisi, menjadi seorang kaya yang
memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, meskipun terkadang jujur
saja tidak selalu berjalan seimbang dengan usaha yang saya lakukan. Seorang
pemimpikah aku? Mungkin ungkapan itu tidak salah juga bila disematkan kepada
saya. The most important thing, I just wanna be a good guy. "I'm a good
guy indeed!"
Saat ini, pernikahan saya sudah
berjalan hampir 9 tahun. Saya tetap berusaha untuk menjadi seorang suami
terbaik. Apakah aku seorang suami sempurna? Tidak juga. Saya acapkali minder
dengan berbagai kelemahan saya dan mungkin dibarengi dengan bejubel mimpi saya
yang ketinggian.
Well, sekarang ini saya berada di
penghujung tahun. Jujur, saya bukanlah orang yang senantiasa memegang teguh
resolusi awal tahun. Di saat orang-orang mulai melakukan "Kaleidoskop",
dengan berbagai bukti dan hasil pencapaian
resolusi di tahun belakangan ini. Tapi aku, 'Let
bygones be bygones!' Jadi yang tahun ini saya lakukan sebaik mungkin, yah,
jalan aja.
Namun baru kali ini, saya merasa
berada dalam suatu kegalauan tiada tara. Seumur hidupku, baru kali ini kurasakan.
Mungkin beberapa orang, termasuk istriku menyadarinya. Bahwa aku sedikit lebih
tampak murung, khususnya jika aku sedang menyendiri baik di dalam ruangan
maupun di dalam Sang Phoenix, kendaraanku.
Hal ini bermula kira-kira di
akhir bulan November. Seorang sepupu, yang kebetulan kami satu sekolah dan juga
satu angkatan di sekolah dahulu pada saat itu menghubungiku lewat Facebook. Dia
bertanya, apakah aku memiliki akun WA, dan sayapun membaginya. Dari dialah aku
mendengar, bahwa akan diadakan reuni sekolah kami. Tanpa saya, sadari hal ini
rupa-rupanya sangat mempengaruhi saya. Seakan-akan diputar kembali film-film
masa lampau, semua memori dan kenangan masa lampau seakan-akan flash back dan menggali semua
kenangan-kenangan manis maupun getir di masa kecil dahulu.
Ada satu yang paling saya ingat.
Itulah saat saya mulai berkenalan dengan seoran lawan jenis yang aku tahu bahwa
ada rasa ketertarikan yang berbeda yang aku rasakan. Semua rasa itu aku
tuangkan ke dalam Diary, buku harian
yang senantiasa menemaniku di kala menjelang malam. saat aku mengenal seseorang
yang special bagiku. Dan rupa-rupanya dialah cinta pertamaku. Yeah, My first Love.
Saya teringat, bagaimana gejolak rasa ini saat berada di dekatnya, saat mampu
melirik atau memandangnya. Terlebih saat memiliki kesempatan untuk berbincang-bincang
ataupun berjalan bersama. Hanya rasa ini dan hati ini yang tahu. Namun, karena
aku. Ya, aku. Dulu, aku bukanlah seseorang yang mampu berani atau mudah untuk
menyatakan cinta. Bahkan saat aku menyatakan cinta dan melamar istriku, pun
saya lakukan dengan sejumlah perencanaan, termasuk dalam merangkai kata-kata
yang harus saya ucapkan.
Aku merasa dengan sadar bahwa aku
sedang berada di dalam titik terbodoh yang aku lakukan atau tidak kulakukan.
Semua memory tentang dia,
seakan-akan kembali berkumpul dan memaksaku untuk kembali saya buka. Saat teman
saya menggoda dan bertanya, apakah dia semakin cantik atau tidak? Saya
menjawabnya," Apakah dia cantik atau tidak, bukanlah menjadi masalah.
Namun kenangan ini yang tidak dapat saya selubungi." .............. Betapa bodohnya saya ini.
Bukankah dia ini orang yang aku cintai pertama kali, namun karena saya yang
tidak berani untuk mengungkapkannya.......... #galau mode:on. Huh, betapa
bodohnya aku. Andai saja waktu dapat berputar kembali untuk saya mampu
mengulang dan memberanikan diriku untuk menyatakan rasa ini kepadanya.
Saat ini saya merasa menjadi orang
lain..... Orang jahat..... Orang yang
sangat jahat. Memang yang saya dengar bahwa dia masih sendiri..... timbul
pertanyaan di dalam benak saya, meskipun agak sedikit berlebihan.... "Jangan-jangan
sebetulnya dia itu menunggu saya...."
This Feeling....
Perasaan ini....
Kegalauan ini ....
Mengapa rasa ini kembali
lagi..... Rasa cinta, rasa ingin memiliki, dengan pemikiran kalau saat ini saya
sih sudah berani untuk menyatakannya, namun situasi dan kondisi yang tidak
memungkinkan lagi. Malahan, kadang-kadang timbul pemikiran jahat. Dimana
istriku tiada dan aku meminta dia menjadi bagian hidupku. Sambil ditemani
lagu-lagu galaunya, Yovie Widianto atau lagu-lagu Vivian Chow, menemaniku seakan-akan
kembali mengenang hal-hal di masa lalu di tengah kegundahan rasaku ini. Saat bisa
bercakap-cakap lagi dengan dia, hati ini menjadi tak tenang. Ah, perasaan ini!!!
Tuhan aku bingung. Apakah nini
adalah suatu cobaan yang harus saya lewati? Cobaan dalam hubungan keluarga yang
tengah aku bina? Jika saya mencoba untuk bertanya dengan orang lain, saya tahu
apa yang menjadi jawabannya. Tepat sekali! Kamu harus tetap setia dengan
istrimu dan lupakanlah dia. Namun, aku tidak sanggup bahkan tidak rela
kehilangan rasa ini. Bahkan aku sama sekali enggan untuk mengubur rasa ini.
Please God, I can't forget her.
Don't force me to forget her! I don't want to delete her in my life. From my
story of life.
Salahkah aku?
Apakah aku telah berubah menjadi
seorang yang brengsek?
Apakah aku telah menduakan orang
yang mencintaiku saat ini?
Yang aku tahu, I'm not a good
husband anyway. Bahkan saat istriku bertanya maukah aku memiliki anak, aku
merasa dan aku menjawabnya bahwa aku belum siap dan tak mampu untuk memiliki
seorang anak. Aku takut tidak dapat mendidiknya dengan baik.
Di tengah kegalauanku ini, saat
ini, aku belum mendapatkan jawaban pasti.
Ini lebih baik.
Kan kujalani saja......
The story of life ........
THE
END
M.G 2016
M.G 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar